Cegah Burnout untuk Kesejahteraan Pekerja dan Perusahaan
Seringkali kita mendengar istilah "burnout". Secara harafiah, “Burnout” artinya terbakar habis. Bila energi dan semangat dalam diri kita diibaratkan sebuah lilin, maka “burned out” diartikan lilinnya sudah terbakar habis. Demikian pula dengan orang yang mengalami sindrom burnout, energi dan semangat dalam diri orang tersebut biasanya sudah berada di titik terendah.
Fenomena burnout kerja
Burnout dideskripsikan sebagai kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental karena stres berlebihan dan berkepanjangan.
Saat pekerja mengalami burnout, maka perusahaan secara keseluruhan akan terimbas secara negatif. Yang awalnya hanya satu orang pekerja dengan sindrom burnout, tapi jika dibiarkan tanpa diatasi akan berimbas pada rekan-rekan lainnya sehingga menciptakan suatu lingkungan kerja yang tidak sehat bahkan toxic. Sederet dampak negatif bisa terjadi, mulai dari sikap mangkir, hilangnya aspirasi, hingga penurunan produktivitas dan performa.
Sangat krusial bagi suatu perusahaan untuk menjaga pekerjanya agar tidak mengalami burnout, karena mereka merupakan aset terbaik yang bisa dimiliki oleh suatu perusahaan. Suatu perusahaan bukanlah sebuah entitas tanpa nyawa. Melainkan sekumpulan visi, misi, dan budaya yang dihidupkan oleh orang-orang di dalamnya.
Pencegahan burnout kerja membutuhkan upaya aktif
Tidak ada pihak yang diuntungkan saat burnout terjadi. Saat kondisi mental dan fisik pekerja menurun, performa perusahaan pun akan menderita. Langkah pencegahan membutuhkan upaya aktif dari kedua sisi. Apa saja upayanya?
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan dari sisi pekerja
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu dipraktikkan oleh pekerja demi meningkatkan kondisi diri dan performa di tempat kerja:
1. Tinjau ulang pilihan yang ada
Momen saat kita merasa kewalahan dengan pekerjaan dapat membuat kita merasa kehilangan kontrol. Dalam situasi ini, tinjau ulang pilihanmu dan ambil kendali. Tentukan prioritas, diskusikan masalah yang sedang dihadapi dengan pihak terkait. Susun strategi untuk menghadapi masalah, selesaikan satu demi satu projek berdasarkan skala prioritas.
2. Cari dukungan
Saat kita merasa tertekan dengan segala permasalahan yang ada, kita bisa mempertimbangkan untuk meminta dukungan dari sekitar. Baik dengan berkolaborasi dengan rekan sejawat maupun meminta saran dari pihak senior di kantor, kita jadi akan merasa didukung dan tidak sendirian melewati saat-saat sulit. Jika kamu merupakan tipe orang yang lebih nyaman untuk bercerita secara virtual, kamu bisa bergabung dengan komunitas online sebagai wadah untuk bercerita.
3. Ambil waktu untuk rehat
Kita tidak bisa bekerja dengan optimal jika kita sudah jenuh, maka dari itu penting untuk mencari waktu untuk beristirahat sejenak. Tidak perlu berkepanjangan, kita bisa mulai dari sesingkat 10 menit per hari. Waktu istirahat yang singkat ini bisa kita manfaatkan bak tombol reset agar tidak jenuh serta mengatur ulang prioritas dan menyegarkan perspektif.
4. Perhatikan kesehatan fisik (olahraga dan tidur)
Fisik yang sehat akan mendukung kita untuk membawa performa optimal ke tempat kerja. Kadang memang aktivitas terasa terlalu padat, tapi kita harus bisa mencari waktu untuk berolahraga dan tidur yang cukup.
Berolahraga dapat meningkatkan performa kognitif kita seperti: konsentrasi dan fokus yang lebih tajam, penyerapan materi belajar lebih cepat, stamina fisik yang lebih panjang, meningkatnya kreativitas, serta menurunkan kadar stress.
Kadang kita terlalu semangat bekerja sehingga kita menelantarkan tidur, padahal kekurangan tidur akan mengakibatkan sederet dampak negatif (rasa lelah, perasaan tidak menentu, fokus dan kreativitas yang menurun, waktu respon yang lambat, dan lainnya). Maka dari itu, penting bagi kita untuk bekerja dengan efektif di jam kantor, sehingga kita punya waktu yang cukup untuk berolahraga dan tidur.
5. Praktikkan teknik mindfulness
Stress di tempat kerja tidak bisa dihindari. Kita bisa berusaha sebaik mungkin, tapi masalah bisa saja datang. Inilah pentingnya bagi kita untuk belajar teknik mindfulness dan meditasi untuk memperkuat pertahanan diri terhadap stress. Mindfulness berarti kesadaran yang muncul dari memperhatikan dengan sengaja, pada saat ini, dan tanpa menghakimi.
Saat kita mindful dalam bekerja, maka kita akan lebih non-reaktif, tidak mudah pecah fokus, dan tetap tangguh dalam situasi sulit sekali pun. Cara untuk mempraktikkan mindfulness beragam, bisa semudah menarik nafas dalam dan sesekali rehat dari pekerjaan.
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan dari sisi perusahaan
Selain hal material yang harus dipenuhi seperti tunjangan pekerja, perusahaan juga harus melakukan upaya aktif untuk mendukung dan meningkatkan kesejahteraan mental pekerjanya.
Sebuah studi menyatakan bahwa penyebab terbesar pekerja mengalami burnout adalah lingkungan kerja yang toxic. Dari sini, perusahaan perlu menyadari pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan sehat.
Kultur perusahaan merupakan hal penting untuk diperhatikan. Perusahaan perlu menganalisa kebiasaan mana yang perlu didukung (contohnya: jam kerja efektif, work-life balance, ruang untuk berkolaborasi, komunikasi terbuka, dan sebagainya), maupun kebiasaan mana yang harus dibasmi (contohnya: perlakuan tidak adil, kurangnya apresiasi, beban pekerjaan yang tidak proporsional, dan sebagainya).
Baik perusahaan maupun pekerja, keduanya memiliki peran yang besar dalam mencegah terjadinya burnout. Kondisi bekerja yang kondusif akan memotivasi pekerja untuk memberikan performa optimal dan perusahaan pun akan dipenuhi dengan pekerja produktif dan kreatif.
